final LISAN!!
KAMIS 28 JULI 2011
Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah. (I Kor 1: 18) Orang yang tidak mau menerima pengorbanan Yesus mengira bahwa Dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah karena dosa dan kejahatannya. (Yes 53: 4) Mereka tidak mengerti dan itu sebabnya mereka menghina Dia. Tetapi mereka yang menerima pengorbanan Yesus merasa bersyukur karena Yesus telah mencurahkan darahNya bagi dosa-dosanya dan menerima kesembuhan bagi tubuhnya oleh karena bilur-bilurNya.(Yes 53: 5)
Jadi, apakah arti Salib Kristus bagi Anda sekarang? Rasul Paulus menjelaskan bahwa kematian Kristus adalah kematian bagi dosa dan kehidupanNya adalah bagi Allah. Dalam ayat berikutnya Rasul Paulus menjelaskan bahwa kita yang percaya kepada Yesus juga harus hidup seperti demikian, yaitu mati bagi dosa dan memberikan hidupnya bagi Allah dalam Kristus Yesus. (Roma 6: 11)
Paskah bukanlah sekedar peringatan tentang apa yang Tuhan Yesus telah kerjakan bagi kita lewat kematianNya di kayu salib dan peristiwa kebangkitanNya dari antara orang mati, tetapi juga harus diapplikasikan dalam kehidupan kita sehari-hari. Kita harus berani menanggung salib kita dimana Tuhan telah menempatkan kita. Jangan lagi berkompromi dengan dosa apapun juga, tetapi hiduplah dalam kekudusan dan kebenaran bagi Allah dalam Kristus Yesus. (PHM)Demikian ditulis oleh Mitsuo Enomoto kepada istrinya. Surat itu menjadikan dia juara pertama kontes “Surat Cinta oleh Manula” tahun 2000 di Jepang.
Memang begitulah Saudara, keadaan rumah tangga kita dapat mengalami “pasang-surut”, terlebih lagi keadaan akhir-akhir ini membuat banyak keluarga Kristen mengalami cobaan berat dalam bidang hubungan keluarga, ekonomi, dan krisis iman. Tetapi puji Tuhan, Dia selalu menolong kita.
Resep agar kita tetap teguh dalam menghadapi cobaan, maka kuatkanlah iman keluarga Saudara melalui membaca atau mendengarkan Firman Allah (Roma 10:17; Ibrani 11:1), dan giatlah dalam melayani segala pekerjaanNya sesuai dengan talenta yang Tuhan berikan. (1 Kor 15:28) Pastilah Tuhan akan pulihkan dari segala sesuatu yang menjadi beban Saudara. Tuhan Yesus memberkati keluarga Saudara. (WB)Penulis surat Ibrani memberitahukan kepada kita bahwa tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. (Ibr 11: 6) Dengan iman itu juga kita menjalani hidup keselamatan kita di dalam Tuhan Yesus Kristus. Ia mau supaya kita memelihara dan menjunjung tinggi harga keselamatan yang Tuhan Yesus berikan kepada kita. Dalam pengertian tersebut, Allah mau supaya kita hidup dalam kekudusan dan kebenaran serta tidak melakukan lagi semua dosa-dosa dan kesalahan yang pernah kita perbuat dahulu. Mengapa hal ini sangat penting? Sebab jika kita sengaja berbuat dosa, sesudah memperoleh pengetahuan tentang kebenaran, maka tidak ada lagi korban untuk menghapus dosa itu. (Ibr 10: 26-27)
Marilah kita memeriksa diri kita masing-masing. Apakah selama ini kita telah menghargai kasih karunia Allah itu? Ataukah kita terlena dengan kehidupan yang berdosa dan menyakiti hati Allah dengan setiap pikiran, perkataan dan perbuatan kita sehari-hari. Kiranya Roh Kudus menolong kita untuk menghargai kasih karunia Allah itu. (PHM)Di hari ketika anak muda itu dibebaskan, ia naik sebuah bis. Semakin dekat bis itu dengan rumahnya, semakin deg-degan hatinya. Ia takut jika ia tidak akan melihat seutas pita merah tergantung di pintu rumahnya. Tetapi ketika bis hampir sampai di depan rumahnya, ia melihat ayah dan ibunya berdiri di depan rumah mereka sambil membentangkan sebuah spanduk besar bertuliskan “Welcome home, my dear son”. Anak itu tahu, ia diterima oleh orangtuanya. Penyambutan mereka ternyata lebih dari apa yang diharapkannya.
Saudara, bukankah setiap kali kita melakukan suatu kesalahan/dosa, hal yang muncul dalam diri kita adalah rasa takut untuk mendekati Tuhan. Kita takut untuk berdoa, takut untuk beribadat kepadaNya sehingga lama-kelamaan kita akan merasa kering secara rohani. Itu terjadi karena pemahaman kita yang seringkali salah mengenai Tuhan. Kita terlalu sering menganggapNya sebagai raja yang otoriter, pemarah dan senang menghukum setiap kali kita berbuat kesalahan.
Melalui perumpamaan tentang anak yang hilang dalam Lukas 15:11-32, Tuhan Yesus memperkenalkan aspek yang ‘baru’ mengenai Allah, yaitu sisi ke-Bapa-anNya. Seberapa besarpun dosa yang pernah kita perbuat. Tidak peduli seberapa sering kita menyakiti hatiNya, Ia adalah Bapa yang sangat mengasihi anak-anakNya dan tidak pernah mengingat dosa-dosa kita yang telah diampuniNya. Ia selalu menunggu kita dengan hati yang penuh kerinduan supaya kita kembali kepadaNya sehingga Ia dapat memeluk dan memulihkan kita lagi. Jangan biarkan Ia menunggu terlalu lama. (SRS)